30 September 2008

stalingrad 1943






…Mereka berjatuhan seperti lalat; tidak ada yang peduli dan tidak ada yang menguburkan mereka. Mereka bergeletakan di mana-mana, buntung tanpa tangan atau kaki dan tanpa mata, dengan perut robek menganga…

…Aku terkejut saat melihat peta. Kami sama sekali sendirian, tanpa bantuan dari luar. Hitler telah meninggalkan kami di ujung tanduk…

…Tidak ada yang bernama kemenangan itu Pak Jenderal. Hanya ada bendera dan orang-orang yang berguguran, dan pada akhirnya tidak akan ada lagi bendera maupun orang-orang. Stalingrad bukanlah suatu keputusan militer, tapi justru suatu judi politik…

BAIT-bait kalimat itu adalah petikan surat-surat terakhir serdadu Nazi Jerman dari Stalingrad (sekarang bernama Volgograd–kota industri yang terletak di tengah sungai Volga), Uni Sovyet, pada sebuah musim dingin di awal 1943. Di tengah samudra salju, mereka terisolasi, tanpa bahan makanan, tanpa bala bantuan. Mereka menunggu saat-saat terakhir: ajal yang menjemput karena ganasnya musim dingin atau sergapan musuh yang mematikan. Para tentara malang itu mengungkapkan perasaannya melalui goresan pena. Surat-surat dan potongan yang terkumpul itu aslinya diterbitkan di Jerman pada 1954 dengan judul Letzte Briefe aus Stalingrad.

Saat itu, pasukan Nazi memang tengah berekspansi besar-besaran ke berbagai negara Eropa, tak terkecuali Uni Soviet. Didukung peralatan militer lengkap serta pesawat-pesawat tempur yang tak pernah lelah menggempur, Nazi relatif mudah merebut berbagai kota dan negara daratan Eropa. Semua? Tidak, rupanya. Karena Stalingrad tak kunjung tumbang.

Stalingrad yang diplesetkan oleh Nikita Kruschev menjadi "Stalin Rad", yang berarti Kota Stalin, adalah pintu gerbang utama menuju Uni Soviet. Itulah sebabnya, Stalingrad harus dipertahankan dengan segala risiko. Seandainya kota ini hancur atau dikuasai Jerman, dalam tempo singkat seluruh wilayah Uni Soviet bakal berada di bawah kaki Jerman. Tak mau itu terjadi, banyak pemuda dari berbagai tempat di Uni Soviet dikirim ke kota ini.

Sejarah mencatat kurang lebih 1.100.000 prajurit Soviet kehilangan nyawa, beberapa ribu di antaranya menjadi korban penembakan polisi keamanan Uni Soviet yang khusus mengawasi dan menembak para prajurit desersi. Banyaknya prajurit Soviet yang melakukan desersi setidaknya membuka mata dan hati Nikita Kruschev bahwa Stalingrad tak hanya cukup dipertahankan dengan peralatan militer seadanya serta mendengungkan semboyan seperti "merdeka atau mati", atau "mari, berkorban untuk ibu pertiwi". Para prajurit itu membutuhkan hal lain untuk menjaga semangat juang mereka.

Pertempuran selama sekitar tiga bulan itu memang benar-benar membuat Jerman kebingungan. Mereka gagal, Stalingrad tak pernah bisa jatuh. Perang kota yang kandas itu memberi pelajaran pada Jerman bahwa kecerobohan dan keyakinan serta kepongahan hanya melahirkan bumerang mematikan. Prajurit Jerman yang larut dalam keputusasaan menemukan kuburannya di Stalingrad…

Perang memang tak pernah mengenal penderitaan. Di mata perang, nyawa yang terbunuh adalah risiko lumrah yang musti ditempuh. Baik sipil maupun militer yang menjadi korban, para jenderal selalu pada keyakinannya bahwa perang adalah perang dan karena itu nyawa yang melayang bukanlah persoalan penting. Saya tak pernah bisa mengerti, dengan dalih perdamaian perang kerap ditempuh. Saya lebih pada keyakinan bahwa mereka yang menghalalkan perang, baik untuk mereka yang menjadi pemberontak maupun yang menumpas pemberontakan, dan menekankan senjata adalah jalan keluar, saya pikir mereka lebih pas ada di lingkaran kejiwaan yang parah. Akal sehat saya tetap menolak penjajahan, tapi agaknya, saya akan tetap menolak perang. Sesuatu yang agaknya sulit, memang. Dunia memang selalu penuh dengan paradoksal dan keganjilan.

Hitam Putih

Dibatas lelah
Kuhentikan, langkah hidup ini
Mungkin harusnya aku mengerti
Semua adanya
Bila... kubayangkan warna hidupku

Kulukis dunia hitam dan putih
Yang hanya berselang
Tawa... Tangis...

Ada saat
Kutenggelam, dilumpur - lumpur
Kupastikan, kuhempaskan
Diriku dijalanan lurus
Semua itu harus tertelan pahit dan manis

Aku memang manusia
Yang takkan mungkin
Harus selalu putih
Akupun tak ingin
Terlukis hitam lagi
Biarlah hidup
Berjalan lagi apa adanya


Hitam... Putih...
Pahit.... Manis...
Tawa.... Tangis....

*diambil daril lirik lagu dewa 19 di album terbaik terbaik

cutter


Cutter atau dalam bahasa indonesia pada biasanya kita sebut kater yang berarti benda tajam yang digunakan untuk menajamkan pensil, memotong kertas atau benda lainnya yang perlu untuk di potong karena memang kater adalah benda yang tajam. akan tetapi kegunaan kater bisa berubah fungsi tergantung si pemakainya, jika si pemakai itu adalah seorang pekerja kantoran kater bisa digunakan untuk memotong hal-hal yang berhubungan dengan benda-benda kantoran, jika si pemakai itu adalah pedagang maka kater bisa digunakan untuk memotong benda-benda yang berhubungan dengan hal hal yang akan di perdagangkan dan jika si pemakai itu adalah pedagang kater maka kater digunakan sebagai barang dagangan dalam arti kata lain dia adalah si penjual kater dan kater itu bisa berguna, namun jika si pemakai kater tersebut adalah preman maka kater akan berubah menjadi benda yang mengerikan yang siap memakan korban dan si korban itu adalah manusia. dan disinilah kita membaca kisahnya, alkisah pada saat malam hari saya hendak berangkat menuju kantor untuk menyelesaikan pekerjaan, maka pada saat malam sesudah tarawehan saya bertolak menuju kantor, di tengah perjalan tiba-tiba sense saya datang seperti spiderman yang reflek jika akan kedatangan penjahat, ditengah perjalan ada seorang pengemudi ugal-ugalan yang hampir menabrak ibu-ibu. saya tau wajah orang tersebut namun saya tidak mengenalnya. akan tetapi saya tidak bereaksi apa-apa karena saya berlawanan arah dengannya. lalu saya pun melanjutkan perjalanan. akan tetapi setelah 2 km di perjalanan sense saya tiba-tiba datang lagi motor saya disalip oleh orang tadi dan saya kaget setengah mati dan motor saya pun oleng dibuatnya. kuperhatikan motor dia layaknya sebuah pembalap yang membabi buta seperti kesetanan, bahkan mobil angkot yang berlawanan arah dengannya akan ditabrak. “manusia macam apa dia?” pikirku saat itu. hingga tak kusadari jiwa penegak hukum saya lalu keluar dan mengejar dirinya. dia adalah seorang gangster, atau pemabuk! Pikirku lagi. kutancap gas dan sekitar beberapa meter di depan ku berhasil menghentikan dia. tanpa basi basi kusuruh turun lalu ku tanya dia. astaga! tercium bau alkohol dari mulutnya! dia mabuk setengah mati dan ngomongnya gak karuan. setelah itu kutelepon rekan kerja agar dia datang sekaligus memanggil piket SPK*. memang nasib tak dapat dihindari malang tak dapat ditolak, malam itu sebuah kater yang di pegang oleh dia menghujam di pipiku. kutak sadar bahwa itu kater dan saya hanya bisa membela diri dengan tangan kosong. kejar mengejar tak bisa dihindari setelah dia menolak bertarung dengan tangan kosong. namun kali ini keberuntungan itu datang setelah dia berhasil ku lumpuhkan, dan bantuan pun datang seteah beberapa menit. namun ada bagian yang hilang dari kejadian ini, yaitu kater. beberapa saat sebelum di aberhasil kulumpuhkan, kater itu di buang entah kemana. kater yang bisa dijadikan barang bukti itu hilang, kater yang membuat lukisan natural nan abstrak di wajahku itu hilang ditelan kegelapan malam. entah bagaimana nasib kater tersebut. Hingga detik ini kater tersebut menjadi legenda yang tidak pernah terlupakan sepanjang hidup saya.

* Piket SPK = Sarana Pelayanan Kepolisian


where you end and iam begin

Diawali dengan membaca basmalah pada tanggal 1 oktober 2008 tepatnya ketika kita sebagai orang muslim merayakan hari kemenangan atau hari raya idul fitri 1429 H maka blog ini telah terkreasi. kalian mungkin berpikir mengapa hari gini baru menciptakan blog? kemana aja kamu selama ini zar? dan bagi saya sebagai makhluk yang paling gaptek sejagat indonesia baru menyadari betapa pentingnya arti menulis. saya mungkin lemah dalam menciptakan gambaran visual atau lukisan yang berhubungan dengan kehidupan dan perasaan dan mungkin saya lemah dalam menciptakan nada-nada dasar musik atau menciptakan lirik yang sempurna yang bisa mewakili keadaanku saat ini, akan tetapi saya belajar dan berusaha untuk membuat hitam di atas putihnya layar komputerku yang kebetulan layar monitor ini masih dalam cicilan bayar alias belum lunas, yah sorry that a little joke! lets write your life. dimana kalian sudah merasa muak untuk menulis dan dimana manusia sudah bosan untuk membaca, maka perkenankan saya untuk memulai menulis dan membaca. thanks to god for giving me a time for write and thank to you all for supporting me! godspeed you all.