setelah selesai acara pencoblosan massal alias pilkada di kabupaten garut yang berakhir dengan dilanjutkan putaran kedua akibat suara yang dimiliki oleh peserta para cabup ini kurang dari 30 %, padahal APBD garut udah cekak alias kosong! padahal setau saya dana yang APBD garut bulan ini aja dapet ngutang dari Bank Jabar entah berapa miliar, dan dana yang lebih besar digunakan unutk pelaksanaan pilkada ini!! oh my God...ternyata saya baru sadar uang rakyat ini dihambur-hamburkan hanya untuk memilih pemimpin! hasil jerih payah rakyat, mengapa tidak digunakan saja buat pembangunan yang jelas-jelas terasa bagi rakyat? tapi itulah pemimpin di negeri ini, ibarat berdagang, modal awal untuk kampanye jikalau dia terpilih maka orientasinya adalah bagaimana caranya modal buat kampanye bisa kembali lagi, dan rakyat? dia jadi korban ya kata kasarnya mah buat memperkaya diri, biar orang-orang pada respek ke dia karena dia kaya, karena dia banyak uang yang dapet dari hasil haram lalu dia dipenjara...dan yang kecipratan adalah keluarganya, akhirnya dia dikucilkan masyarakat karena ayahnya adalah koruptor, apa yang bisa dibanggakan jika orang tua kita ternyata koruptor?? bangga.
garut untuk sekarang ini dituntut pemimpin yang bisa mengembalikan keadaan menjadi normal kembali, serta membawa perubahan. yang saya rasakan sejak jaman Sekolah Dasar hingga sekarang saya memeras keringat di negeri garut ini tidak pernah ada perubahan, tidak ada perbaikan dan lowongan usaha yang sangat minim, itu-itu saja, bahkan orang garut lebih condong menghambur-hamburkan uangnya hingga ke Bandung. entahlah mengapa para pemilik modal enggan datang kesini? mungkin saya bisa bangga jika Garut terkenal dengan dombanya serta industri dodol yang terkenal hingga ke polosok negeri indonesia ini akan tetapi sumber daya manusia nya minim, mereka para pribumi yang memiliki kelebihan lebih memelih kota lain dibanding membangun kota kelahirannya sendiri, jadi sedih melihat kota Garut ini, mereka seperti kacang yang lupa dengan kulitnya, datang hanya setahun sekali lalu pergi. bagi pemimpin baru yang nantinya terpilih, tekanan saya adalah perubahan menuju yang lebih baik, mulai dari elemen yang terkecil hingga yang terbesar.
jangan pernah bangga dengan dodol dan garut. tapi kontribusi bagi masyarakat, pengabdian pemimpin dan ikhlas menjalani tugas.
garut untuk sekarang ini dituntut pemimpin yang bisa mengembalikan keadaan menjadi normal kembali, serta membawa perubahan. yang saya rasakan sejak jaman Sekolah Dasar hingga sekarang saya memeras keringat di negeri garut ini tidak pernah ada perubahan, tidak ada perbaikan dan lowongan usaha yang sangat minim, itu-itu saja, bahkan orang garut lebih condong menghambur-hamburkan uangnya hingga ke Bandung. entahlah mengapa para pemilik modal enggan datang kesini? mungkin saya bisa bangga jika Garut terkenal dengan dombanya serta industri dodol yang terkenal hingga ke polosok negeri indonesia ini akan tetapi sumber daya manusia nya minim, mereka para pribumi yang memiliki kelebihan lebih memelih kota lain dibanding membangun kota kelahirannya sendiri, jadi sedih melihat kota Garut ini, mereka seperti kacang yang lupa dengan kulitnya, datang hanya setahun sekali lalu pergi. bagi pemimpin baru yang nantinya terpilih, tekanan saya adalah perubahan menuju yang lebih baik, mulai dari elemen yang terkecil hingga yang terbesar.
jangan pernah bangga dengan dodol dan garut. tapi kontribusi bagi masyarakat, pengabdian pemimpin dan ikhlas menjalani tugas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar