24 Februari 2009

terjebak moment sisifus

akal bisa hilang dikala seorang manusia mengalami emosi, tapi bagaimana jika emosi itu disisipkan dalam seseorang yang memiliki sebuah "kepintaran"? yang pasti itu menyedot energi dan...sia-sia. mungkin dia bermaksud untuk memberikan sebuah penjelasan yang menurutnya buta padahal ungkapan yang dia keluarkan sudah diluar batas kewajaran dan di mata saya dia hanya mensponsori hasrat dan ego versi dia yang cenderung naik turun layaknya statistik. jika menghadapi orang yang mengalami "depresi sosial" seakan membuat jantung berdegup dengan keras ketika moment yang pada awalnya cerah tiba-tiba berubah menjadi badai, padahal saya tidak pernah menebar angin, atau konsepsi naik darah membuat denyut nadi dia berubah menjadi sosok temperamental yang selama ini dia simpan. dan akhirnya moment itu terus dia simpan, karakter dia terlihat yang aslinya dan dia terjebak dalam permainan yang dia buat sendiri. hal yang konyol jika saya harus ikut terjebak di dalam permainan yang dia ciptakan. niat awal dengan kebaikan yang saya lakukan agar bisa membuang rasa angkuh yang dimiliki tiap manusia mungkin sia-sia jikalau kebenaran itu dia tebarkan dengan kebencian seperti teori nazi, mengapa bukan dengan cara yang baik-baik? mengapa harus dengan penyeragaman hasrat dan membuat kita semua akhirnya terjebak dalam situasi yang membangkitkan kebencian, inilah sebuah kebencian, harus terjebak dalam moment yang sia-sia, bertahan dan menyerang bertahan dan menyerang, begitu dan begitu terus lalu akhirnya menjadi hal yang sia-sia. mau berteman dengan sabar tetapi mengkhianati harga diri atau berteman dengan harga diri dan memegang permusuhan? yang pasti saya harus keluar dari lingkaran sia-sia ini. mungkin entah apa yang akan keluar dari pemikiran sisi gelapnya dia nanti. kita bersama-sama menggunakan perasaan lalu silahkan nilai kebenaran....

Tidak ada komentar: