27 April 2009

disaat motor kecepatan 60 km/jam





but I cant help the feeling

i could blow through the ceiling
if i just turn and run..and it wears me out

if i could be who you wanted
if i could be who you wanted

all the time.....

[radiohead - fake plastic trees]

26 April 2009

ketika kebencian menemukan maknanya sendiri

setiap sebelum saya menutup kedua mata saya dengan pikiran terjaga, selalu ada scene yang terbayang dari masa-masa yang telah saya jalani di hari-hari lalu. hingga kepala saya hampir mau pecah disaat momen itu teringat kembali, dengan ribuan sumpah serapah yang paling saya benci untuk diteriakan, sehingga saya hanya bisa mengutuk diri saya sendiri. itulah momen yang paling saya benci sehingga mau tidak mau saya harus menempatkan dia di nomor satu sebagai manusia yang paling saya kutuk! ribuan pertanyaan saya tumpahkan kepada diri saya sendiri, namun saya pun tidak bisa apa-apa, walaupun jutaan orang berkhotbah tentang kata ikhlas namun hati itu terlanjur di diagnosa rasa benci.
sesaat setelah penolakan itu (yang nota bene sebelumnya dia yang meminta) mau tidak mau saya hanya di berikan dua opsi pilihan dari diri saya sendiri :
-opsi yang pertama : saya tetap berdamai dengan dia dan otomatis saya bermusuhan dengan diri saya sendiri dan meludahi itikad baik saya sendiri. karena jika berdamai dengannya berarti sama saja saya mendukung dengan segala dusta, fitnah dan rencana busuk dia.
-opsi yang kedua : saya harus membenci dia jika saya menghargai itikad baik saya, dan saya harus melawan segala konspirasi dari setiap dusta yang dia ciptakan. setiap orang punya hak untuk memilih dan saya punya hak untuk membenci karena telah di dzolimi.
-jadi lebih baik saya memilih berdamai dengan kebencian...itikad baik itu adalah sebagai harga mati dari harga diri saya yang telah dia ludahi, dan itu adalah alasan pasti tanpa amandemen.

entah mengapa Tuhan menciptakan rasa cinta pada tiap manusia, begitu juga dengan rasa benci, tapi ini adalah tanggung jawab moral yang secara tidak langsung saya merasa terbebani dengan hal ini. seakan - akan iblis yaang memegang kendali dia berusaha berlari mengejar saya untuk tetap diam tanpa melawan atau melawan dengan diam. dari tempat kesunyian yang membuat pikiran ini tetap terjaga dari segala mara bahaya dan ditemani kebencian yang terus menggerogoti waktu tanpa harus merasakannya saya terus menunggu hari pembalasan itu . jika jawaban itu adalah terlanjur, dia terlanjur mengambil jalan dan saya terlanjur membenci maka makna itu akan datang dengan sendirinya. bisa saja saya menciptakan rasa sesal untuk dia atau siksa yang paling pedih sekalipun untuk dia atau menciptakan hidup yang paling getir untuk dia, tapi saya lebih bangga dan bahagia jika dia tersiksa dengan amat sangat akibat dari kebodohan yang dia lakukan sendiri.

18 April 2009

ini pesan untuk kamu : orang yang sudah merasa bangga dengan pengorbanan

waktu bulan maret kemarin ada seseorang yg share dengan saya tentang pengorbanan, sebelumnya memang saya sempat bertanya. namun satu hal yang masih terus menerus meneriaki saya di dalam hati adalah apa setiap orang diwajibkan mengorbankan suatu hal yang dianggap penting dalam hidupnya? pertanyaannya : jika memang hal itu masih bisa dipertahankan dan saya berusaha untuk mempertahankannya apakah bisa itu disebut pengorbanan? -ini pengorbanan yang dilihat dari sisi saya- mungkin sugesti saya berkata bahwa pengorbanan di sisi lain atau di mata orang yang saya tanya adalah pada intinya saya harus melepaskannya maka itu adalah pengorbanan saya di mata dia, sungguh apa saya bodoh atau dungu hingga saya tidak bisa menyanggahnya karena itu adalah salah satu statement paling buta dan dangkal yg pernah saya baca, suatu pertanyaan saya : "apakah layak suatu pengorbanan di bicarakan?" mungkin jika dia bangga dengan pengorbanan dia dan mencatat semua pengorbanan dia.....maka itu adalah bullshit! jika kita dituntut untuk berkorban dan terus mengingatnya maka satu niat busuk yang ada di kepala, yaitu meminta timbal balik. apakah realistis jika suatu pengorbanan harus kita ingat terus?? mungkin entah berapa ribu pengorbanan yang sudah diperbuat oleh tiap orang tapi hanya beberapa orang yg berbuat tanpa pamrih, seorang ibu memberikan pengorbanan kepada anaknya, lalu..apakah seorang ibu tersebut membicarakan pengrobanannya kepada anaknya pada suatu saat nanti? saya yakin jika seorang ibu tersebut bijaksana, maka biarkan anaknya yang sadar..sehingga timbullah rasa sadar dari seorang anak itu sendiri dan otomatis tanggung jawab moral yg murni akan datang dari hati nurani sang anak kepada ibunya dan saya secara pribadi ketika saya berniat ikhlas utk berkorban maka niat kedua adalah tanpa pamrih biarkan orang lain yang mengingat dan merasakannya. kamu boleh berbicara dan bangga dengan pengorbanan kamu jika kamu telah berkorban demi negara atau agama kamu lalu kamu dan orang-orang bisa bangga ketika namamu tercatat di batu nisan kuburan...

09 April 2009

hilang

dulu saya pernah berpikir begini, jika saya memiliki hal yang berharga maka pertama yang harus dipikirkan adalah apakah saya siap untuk kehilangan barang berharga ini jika memang harus hilang? bukannya saya malas berusaha mencari lagi atau berusaha mati-matian untuk mendapatkan lagi, tapi bagaimana cara agar saya bisa berusaha untuk menerima walaupun saya tau itu sangatlah berat. sesuatu hal yang kita miliki saat ini adalah layaknya serpihan atau recehan uang yang terpisah dan kehidupan kita adalah jika uang recehan atau serpihan itu bersatu, sehingga wajar jika ada salah satu uang receh atau salah satu serpihan yang jatuh atau hilang. ibarat kehilangan uang seribu dari uang sejuta yang ada didalam saku kita, mungkin uang seribu itu akan kita dapatkan lagi di waktu yang lain dan bahkan mungkin bisa saja menjadi lebih yang kita dapatkan, misalkan hilang seribu lalu besok dapet lima ribu. terlalu berlebihan, tapi bisa saja itu terjadi, kita gak akan pernah tau kedepannya seperti apa, yang pasti saya tidak hidup lagi di masa lalu untuk saat ini dan seterusnya. konyolnya, saya baru sadar sekarang!