setiap sebelum saya menutup kedua mata saya dengan pikiran terjaga, selalu ada scene yang terbayang dari masa-masa yang telah saya jalani di hari-hari lalu. hingga kepala saya hampir mau pecah disaat momen itu teringat kembali, dengan ribuan sumpah serapah yang paling saya benci untuk diteriakan, sehingga saya hanya bisa mengutuk diri saya sendiri. itulah momen yang paling saya benci sehingga mau tidak mau saya harus menempatkan dia di nomor satu sebagai manusia yang paling saya kutuk! ribuan pertanyaan saya tumpahkan kepada diri saya sendiri, namun saya pun tidak bisa apa-apa, walaupun jutaan orang berkhotbah tentang kata ikhlas namun hati itu terlanjur di diagnosa rasa benci.
entah mengapa Tuhan menciptakan rasa cinta pada tiap manusia, begitu juga dengan rasa benci, tapi ini adalah tanggung jawab moral yang secara tidak langsung saya merasa terbebani dengan hal ini. seakan - akan iblis yaang memegang kendali dia berusaha berlari mengejar saya untuk tetap diam tanpa melawan atau melawan dengan diam. dari tempat kesunyian yang membuat pikiran ini tetap terjaga dari segala mara bahaya dan ditemani kebencian yang terus menggerogoti waktu tanpa harus merasakannya saya terus menunggu hari pembalasan itu . jika jawaban itu adalah terlanjur, dia terlanjur mengambil jalan dan saya terlanjur membenci maka makna itu akan datang dengan sendirinya. bisa saja saya menciptakan rasa sesal untuk dia atau siksa yang paling pedih sekalipun untuk dia atau menciptakan hidup yang paling getir untuk dia, tapi saya lebih bangga dan bahagia jika dia tersiksa dengan amat sangat akibat dari kebodohan yang dia lakukan sendiri.
sesaat setelah penolakan itu (yang nota bene sebelumnya dia yang meminta) mau tidak mau saya hanya di berikan dua opsi pilihan dari diri saya sendiri :
-opsi yang pertama : saya tetap berdamai dengan dia dan otomatis saya bermusuhan dengan diri saya sendiri dan meludahi itikad baik saya sendiri. karena jika berdamai dengannya berarti sama saja saya mendukung dengan segala dusta, fitnah dan rencana busuk dia.
-opsi yang kedua : saya harus membenci dia jika saya menghargai itikad baik saya, dan saya harus melawan segala konspirasi dari setiap dusta yang dia ciptakan. setiap orang punya hak untuk memilih dan saya punya hak untuk membenci karena telah di dzolimi.
-jadi lebih baik saya memilih berdamai dengan kebencian...itikad baik itu adalah sebagai harga mati dari harga diri saya yang telah dia ludahi, dan itu adalah alasan pasti tanpa amandemen.
entah mengapa Tuhan menciptakan rasa cinta pada tiap manusia, begitu juga dengan rasa benci, tapi ini adalah tanggung jawab moral yang secara tidak langsung saya merasa terbebani dengan hal ini. seakan - akan iblis yaang memegang kendali dia berusaha berlari mengejar saya untuk tetap diam tanpa melawan atau melawan dengan diam. dari tempat kesunyian yang membuat pikiran ini tetap terjaga dari segala mara bahaya dan ditemani kebencian yang terus menggerogoti waktu tanpa harus merasakannya saya terus menunggu hari pembalasan itu . jika jawaban itu adalah terlanjur, dia terlanjur mengambil jalan dan saya terlanjur membenci maka makna itu akan datang dengan sendirinya. bisa saja saya menciptakan rasa sesal untuk dia atau siksa yang paling pedih sekalipun untuk dia atau menciptakan hidup yang paling getir untuk dia, tapi saya lebih bangga dan bahagia jika dia tersiksa dengan amat sangat akibat dari kebodohan yang dia lakukan sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar