Batasan antara aib, kelalaian dan hal yang bathil memang tipis, namun hal yang paling penting adalah bagaimana ketika kita dihadapkan pada suatu pembatas disaat pemikiran itu timbul ke permukaan dari alam pikiran kita. Pemikiran itu adalah hasil sumber daya bisa dari bacaan atau realita dan fakta lapangan, disini bukannya saya ingin menjadi personal yang sok suci atau munafik, memang manusiawi jika saya merasa hal itu tapi jika ada hal yang tidak sesuai dengan pemikiran saya lalu saya menumpahkannya pada tinta Microsoft di layar kaca, dan bukan karena saya sok vokal tapi karena memang kenyataan realistis nya seperti itu, dan kalau saya diam saja berarti saya bodoh atau idiot atau berbagai macam kata serapan yang sejenisnya, but letak kebodohan saya hanya satu : yaitu di saat saya terlalu sering di puji dan di sanjung lalu terbuai dan akhirnya jatuh lupa akan saran teman dan kawan, bahkan terkadang bisa arogan atau naik pitam jika kritik itu mensubjektifitas kita dan akhirnya mengeluarkan statement yang mengahikimi dan menstigmatisasi seseorang yang mensubjek kritikan itu kepadanya namun di mata saya mungkin orang itu salah mempersepsikannya karena hawa nafsu, sebab hawa nafsu bisa merubah watak seorang yang baik menjadi buruk sehingga dirinya menciptakan statement yang logis karena tanpa analisis, hanya langsung keluar disaat moment itu masih berlangsung, mungkin bisa juga saya bodoh karena saya salah menempatkannya, tapi bagaimana bisa membuka forum kalau statement itu berupa bacot tulisan yang nyerocos secara tiba tanpa analisis yang logis dan masuk akal yang bisa saya terima sehingga saya mau lebih mengesampingkan harga diri saya dan saya bisa lebih manusiawi untuk menerima sedikit kekeliruan ini demi jalannya kerja sama ini. Setahu saya kita semua dilahirkan dari kebodohan kita semua dilahirkan dari ketidak tahuan, maka dari itu sedkit pelajaran yang paling berharga yang terkadang tidak pernah kita sadari adalah kejadian dari kehidupan kita sehari-hari dari hal yang sepele, dari hal yang terkadang tidak sesuai dan sejalan dengan diri kita. Saya sebagai seorang aparat yang dilahirkan di jaman reformasi ini dan tepat di saat institusi hukum ini memiliki hak otonomi di bawah presiden langsung maka kehidupan lembaga ini otomatis berubah dan saya yang ada didalamnya pun harus mengikuti alur jalan tersebut, mau tidak mau saya harus mengikutinya..namun hal itu terkadang terganjal olah masalah yang ada di dalamnya sendiri. Memang budaya sudah mendarah daging sehingga “penyakit kronis” ini yang orang-orang lebih senang menutup-nutupinya membuat lembaga ini sedikit pincang, pasca reformasi birokrasi yang sedang di jalani oleh pimpinan utama (kapolri) dan hal ini sangatlah bermanfaat (dibandingkan dengan institusi yang lain), sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat perubahan walaupun terkadang ada “batu sandungan dan batu kerikil”. Dan selama 5 tahun saya mengabdi satu hal yang membuat saya bangga dengan institusi saya, yaitu Institusi ini selalu berdiri tegak walau banyak cobaan datang, mulai dari problem intern dan masalah nontekhnis lainnya yang banyak menimbulkan opini buruk pada masyarakat serta menjawab semua kritikan media dan personal dengan sikap dan tindakan yang arif bukan dengan jawaban yang menjudge atau menjatuhkan atau bahkan menuntut balik si pengkritik, itulah satu hal keistimewaannya terutama dalam menjalani masa pemerintahan demokratis ini. Memberikan bukti perubahan yang lebih realistis serta pelayanan yang lebih efisien juga tranparansi dan penambahan sarana, sehingga tidak sia-sia anggaran untuk institusi ini yang setiap tahunnya selalu dianggarkan, yang hasil anggaran ini diambil dari pendapatan hasil pajak dari rakyat Indonesia dan juga saya dapatkan setiap bulannya, itu membuat materi yang saya makan ini menjadi lebih manfaat karena apa yang dilakukan ini semata-mata karena demi mengabdi dengan jujur dan ikhlas (walaupun terkadang hal itu sangatlah sulit) sehingga materi yang kita dapatkan ini barokah karena ini bukan uang hasil yang bathil sehingga rakyat ikhlas membayar kita setiap tahunnya lewat pajak bumi dan bangunan. Serta terus berupaya mengubah opini buruk masyarakat serta rahasia yang tidak umum lagi yang kesannya negatif terhadap korps ini, jujur saja dari hati saya yang paling dalam sebetulnya saya tidak rela institusi ini di lecehkan atau bahkan di hina dan diinjak-injak oleh oknum masyarakat dan oknum dari dalam itu sendiri yang berusaha untuk menjatuhkan, namun saya bisa cukup jeli untuk memilah dan memilih antara wacana yang mangandung kritikan dan kalimat yang berbau menjatuhkan, saya banyak belajar dari media cetak dan cyber serta televisi, juga masyarakat di sekitar saya. Tapi apakah karena saya melakukan otokritik terhadap institusi saya ini sehingga saya disetarakan dan sehina oknum aparat yang melakukan pemeresan terhadap masyarakat? Atau disamakan dengan seorang oknum anggota yang suka mabuk-mabukkan dan tukang maen cewek? Atau mungkin saya cukup aneh untuk melakukan hal itu…Sungguh konyol, padahal otokritik ini sama saja dengan upaya untuk membangun mental saya dan yang membaca, sangguh tragis kalau hal itu dipandang sebagai hal yang menjatuhkan, padahal kita hidup di jaman reformasi dengan hawa politik yang demokrasi, bukan hidup di negeri komunis atau jaman orde baru. Sesuatu hal yang dimana saya bisa belajar lebih banyak bagaimana cara menyampaikan kalimat yang tidak arogan dimana kita tidak di tololkan dan dibutakan kebudayaan lama institusi ini atau bahkan lebih buruk lagi : menciptakan cerita imajinasi yang muluk sehingga terlihat seperti lawakan halusinasi tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana mancari jawaban yang lebih bijak dan ini sama saja kita belajar membaca watak seseorang, membaca keadaan dan menilai potensi negosiasi dan bahasa diri kita sendiri. Setiap orang berhak untuk mengeluarkan pemikirannya dan itu di lindungi oleh undang-undang asal tidak diluar fakta dan realita serta tidka menjurus ke penghinaan, tidak ada seorang pun yang boleh dibungkam oleh kita. Karena ini bukan jamannya, dan ini juga merupakan tantangan baru untuk kita semua. Tantangan antara lebih baik manutupi aib diri kita sendiri dan kawan kita atau menutupi kebusukan yang ada di sekitar kita, disanalah saya mengerti mana yang mamang harus dijaga rahasianya dan mana yang harus dibongkar.
Ulasan Konser – Arctic Monkeys, O2 Arena London, 10 September 2018
7 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar