05 Agustus 2009

preman oh preman

hak asasi sangat perlu diterapkan pada negara-negara beradab, negara yang katanya memiliki aturan hukum yang sangat adil dan itu harus diterapkan, begitu juga aturan-aturan hukum yang mengatur tentang hak asasi itu sendiri agar tidak ada aparat negara yang bertindak sewenang-wenang. namun terkadang keadaan di lapangan tidak "sejalan" dengan aturan tersebut, biasalah namanya juga aturan, bahkan ada orang yang bilang bahwa aturan diciptakan untuk dilanggar, oke bolehlah...saya setuju dgn hal itu, bagaimana jika saya melanggar aturan tentang hak asasi manusia..tapi, ini untuk para preman.
preman menurut wikipedia yaitu Premanisme (berasal dari kata bahasa Belanda vrijman = orang bebas, merdeka dan isme = aliran) adalah sebutan pejoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain.
ini menurut wikipedia lagi :

Fenomena preman di Indonesia mulai berkembang pada saat ekonomi semakin sulit dan angka pengangguran semakin tinggi. Akibatnya kelompok masyarakat usia kerja mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan, biasanya melalui pemerasan dalam bentuk penyediaan jasa yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Contoh:

  • Preman di terminal bus yang memungut pungutan liar dari supir-supir, yang bila ditolak akan berpengaruh terhadap keselamatan supir dan kendaraannya yang melewati terminal.
  • Preman di pasar yang memungut pungutan liar dari lapak-lapak kakilima, yang bila ditolak akan berpengaruh terhadap dirusaknya lapak yang bersangkutan.

Sering terjadi perkelahian antar preman karena memperebutkan wilayah garapan yang beberapa di antaranya menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

ada yang lebih gila lagi :

Preman di Indonesia makin lama makin sukar diberantas karena ekonomi yang semakin memburuk dan kolusi antar preman dan petugas keamanan setempat dengan mekanisme berbagi setoran.

petugas keamanan atau aparat keamanan berkoalisi dengan preman ini adalah hal yang paling menyebalkan. sebab saya sendiri sering clash dengan para preman, padahal iam a police for a god sake! (lain sombong) tapi saya gak habis pikir kalau saya clash dgn preman "kukutan" polisi berarti sama saja saya clash dengan pokis lagi dong?? tapi kalau saya sudah terpaksa berhadapan dengan mereka (jika saya sedang sendiri) saya lebih banyak adu bacot karena kejadian ini berlangsung di kandang mereka dan bukannya saya pengecut karena memanggil teman2 saya yang se-profesi juga tapi karena saya berusaha mencari aman, setelah itu ya gimana nanti, mau pake kekerasan juga no problem karena saya nggak sendiri. hanya dilema itu masih terus ada disaat saya sebagai aparat harus berhadapan dengan mereka yang tidak pernah mengenal hak asasi dan selalu menindas masyarakat. namun itu semua balik lagi ke pemerintah, jika kehidupan sosial masih terus seperti ini mungkin para preman ini bakalan terus eksis dan bertahan, tapi jika kehidupan sosial terus makin merosot, kemiskinan dimana-mana, kebodohan merajalela maka siap-siap "profesi preman" menjadi semakin ngetop dan bahkan anak kecil pun mulai ingin bercita-cita menjadi preman, jadi kalau preman mulai banyak dan bertebaran siapa yang harus di salahkan? mana ada negara beradab yang diisi oleh preman dan pemimpin bermental preman.


2 komentar:

Anonim mengatakan...

jadi inget dulu ponakan saya pernah bilang:
'aku klo udah gede mau jd preman'
(dan dia tuh cewe..ookh!)

dimulai dari km zar, aparat masa kini yg hrs tegas menentang premanisme :D

TIZAR AZIZ mengatakan...

aparat oh aparat, aparat di negeri ini itu ibarat buah simalakama, maju terus kena HAM diam di tempat dikira gak kerja..oh aparat