25 Juni 2009

Laporan Amnesty International

"Amnesty International menyatakan bahwa Polisi Republik Indonesia (Polri) masih sering terlibat kekerasan dan penyiksaan para tersangka.
Laporan Amnesty International yang disiarkan, Rabu (24/6), juga menyebutkan bahwa para pelakunya jarang diadili.
Kelompok pegiat hak asasi manusia yang berkantor di London ini, seperti dikutip kantor berita Reuters, mengakui berbagai upaya dalam satu dasawarsa ini telah dilakukan untuk membuat polisi lebih profesional dan akuntabel. Namun, langkah ini dikatakannya gagal menghilangkan masalah yang sudah banyak dilakukan."
LONDON (SuaraMedia News)

*siapapun juga tidak mentolerir yang namanya kekerasan, namun jika kita berbicara tentang kekerasan setiap negara pasti pernah melakukan kekerasan, mereka lupa apa yang telah terjadi di hiroshima dan nagasaki, mereka lupa apa yang terjadi di vietnam 40 tahun silam serta ingatan yang masih segar tentang korban-korban sipil di irak. jadi siapakah negara yang lebih barbar? Amnesty International bersembunyi dibalik omong kosong wacana Hak Asasi Manusia , laporan yang lebih banyak pada negara-negara kelas dua terutama negara-negara korban kapitalis. jadi Laporan Amnesty International masih belum otentik, absurd!

07 Juni 2009

rasa takut yang ada di dalam diri kita sendiri

apa yang engkau pikirkan jika dirimu berada dalam suatu lingkungan yang sunyi gelap dan jauh dari keramaian?
pengalaman ini yang saya rasakan ketika saya sedang dalam perjalanan pulang dari rumah seseorang yang kebetulan bertempat tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari keramaian. saat waktu menunjukan pukul 9 malam dan saya hendak bergegas pulang, maka satu hal yang terlintas di kepala saya adalah jalan dan mental. tidak ada satu pun pikiran negatif yang merasuki diri saya hingga timbul suatu rasa takut, namun itu semua berubah drastis disaat saya bersama sang motor berada di tengah-tengah sawah nan gelap ditambah kuburan di pinggir saya, strange! padahal saya sering lewat sini namun tidak sengeri hari ini. the night is full moon, and this night is frightening. ditambah lagi nada-nada jonny greenwood di headphones saya yang terasa sangat horror hingga menusuk telinga saya dan efeknya saya hari ini menjadi seorang pengecut. lalu mengucur berbagai sugesti yang tidak perlu di dalam pikiran saya : bagaimana tidak, saya harus mengarungi jalanan ini selama 2 kilometer. rasa takut yang terus mengikuti-ku akhirnya tertawa girang disaat 2 kilometer terakhir telah kulalui namun ternyata jalan di depan masih sunyi dan bahkan lebih sunyi dan gelap...serta sepi dan jauh dari peradaban. ditempat ini manusia seakan-akan di lenyapkan dari muka bumi, seakan-akan saya berjalan menuju negeri antah berantah atau suatu tempat yang tak bertuan, di depan hanya jalan tanpa aspal dan berbatu tajam, tanpa peduli gas itu saya tarik sangat kencang dan ya! dia berhasil, dia berhasil mengacaukan pikiran saya, you got it jonny! congratuliation...rasa takut itu ternyata hanya sebuah fantasi yang tercipta karena keadaan. lagu-lagu itu membuat suasana menjadi lebih mencekam. ditambah backgorund pohon pinus yang rindang dan sedikit perasaan negatif yang meracuni kepala tentang makhluk-makhluk buruk rupa dari alam metafisika. setelah itu semua terlalui, setelah akhirnya saya menemukan peradaban ternyata saya dapatkan sebuah kesimpulan.
rasa takut ini hanya tercipta akibat perasaan kita sendiri. dan mungkin sangat manusiawi jika kita memiliki rasa takut, akan tetapi bukankah rasa takut itu emosi layaknya tangisan pada rasa kecewa...disaat rasa kecewa itu ada dan kita hanyut di dalamnya maka hanyutlah perasaan kita sepenuhnya pada rasa kecewa itu, namun jika kita bisa meminimalisir maka secara bertahap akan hilang seiring berjalannya waktu....rasa takut hanya bisa dilawan dengan melawan rasa takut itu sendiri. mengabaikan rasa takut, mengacuhkan rasa takut lalu mengalihkan perasaan dan pikiran kita dengan doa.
--------------------------
--------------------------

* untuk seseorang yang baru pindah kamar, carilah teman di kekosongan malam

05 Juni 2009

goodbye satan!

ada yang bilang menyesal.....anjiss, bahkan untuk mengingatnya pun saya harus melewati tujuh tingkat jenis rasa benci dan rasa (benci) ini adalah hukum causa prima, aku tidak pernah menciptakannya, karena aku selalu menghindarinya. sehingga tema dari tulisan ini bukanlah penyesalan, tapi bagaimana agar setan dia (yang menjelma menjadi rasa benci) ... itu hilang.

dan sekali lagi, ini bukan pula karena saya pesimis, malah rasa pesimis itu ada ketika wajah itu adalah sobekan kertas masa lalu yang kamu rangkai lagi satu persatu, saya hanya bilang "f*ck You!" or "go to hell" dan sumpah serapah yang lebih sopan untuk menjilat wajah kamu yang berlumur omong kosong dan kamu selalu bersembunyi di ketiak atas nama kebijaksanaan atau malah wajah setan bermuka dua itu tanpa rasa malu malah bersembunyi di balik nama tuhan. sekarang bawa ucapan mu itu untuk kamu sendiri dan muntahkan di depan muka anjing betina peliharaan mu itu
-case close-

02 Juni 2009

disaat dunia mulai bersekutu untuk menentang

di dunia ini permainannya dimainkan dengan dadu yang terkadang dicurangi, seseorang harus mempunyai sistem pertahanan yang besi, disaat nama menjadi taruhan dari sebuah tulisan, pada saat itu pula orang-orang sekeliling melihat dengan matanya yang terkadang hanya sebelah. mulai membuat koalisi, dan disaat itu pula saya bisa menjadi seorang publik enemy dan bahkan orang-orang yang terdekat dahulu lah yang menilai. ada yang sependapat dan memberikan support ada yang kontra lalu sudah tentu menambah daftar musuh. namun disinilah kita melihat yang sesungguhnya, dimana harga diri sebuah pena dipertaruhkan. ada yang tetap pada jalur pendiriannya ada yang meninggalkan pena-nya. saya memilih bertahan pada pena saya, walaupun saya mungkin sudah tersudutkan, tapi mereka tahu apa? pendirian saya juga ada batasnya, saya tahu dmana harus berhenti, saya tidak perlu diajari bagaimana harus bertindak. mereka tidak pernah tahu sakitnya pena itu saat di injak-injak, mereka para penyudut hanya bisa menghakimi saya dengan telunjuk mereka ke hadapan muka saya sendiri. dan dengan sedikit pengharapan : andaikan saja ada seseorang yang tetap bertahan diposisi saya memberikan amunisi support

01 Juni 2009

bermain-main dengan setan yang sedang mengais robekan luka lama dari dalam tong sampah

betul gak sih kalau sifat setan dan malaikat itu ada di setiap jiwa manusia?
kalau kita itu adalah sifat baik dan buruk?
jika kita menemukan cinta pasti disana ada kebencian?
mungkin begitu pula dengan saya (yang nota bene seorang manusia yang tinggal di planet bernama bumi)
setelah beberapa menit mengais-ngais roh nietzsche untuk bertanya pada zarathustra serta sedikit konsultasi pada tiga angka enam-nya addy gembel untuk memulai serapah berbarengan dengan "setan yang sudah merasa manjadi yang paling benar" yang tiba-tiba datang menghampiri saya hari ini.
mencintai itu butuh pengorbanan (yang tidak buta) begitu juga membenci pasti membutuhkan sebab, benci (yang saya anggap ini adalah sifatnya setan) mungkin tidak akan berdiri sendiri, seperti hubungan sebab dan akibat, dan menurut pikiran (setan) saya benci yang baik adalah benci yang tidak di korupsi, yang tidak perlu ada statement yang dibuat-buat.
hari ini ketika sehari merasakan rasukan setan yang masuk sedikit-sedikit lewat denyut nadi saya dan menggumpal di pikiran saya juga tidak mengalir dengan sendirinya, ada energi negatif yang datang dari lembaran lama. yang sudah bosan saya baca, karena merasakannya sudah beku. disaat orang-orang bilang "mungkin bukan jodoh" lalu hati kecil saya berbicara "mungkin sudah terlalu basi" untuk dibicarakan, ini bukan masalah "jodoh" dan bukan juga masalah "ikhlas" itu semua (sekali lagi) sudah basi. ini adalah masalah setan yang datang dari dia, yang berubah ujud menjadi suatu jiwa berbentuk kebencian. tepat hari ini setan itu datang mengoyak-ngoyak rutinitas saya. membawa sejuta kebencian yang datang dari semua yang sudah dia lakukan...padahal kebencian ini memang sudah tertulis di lembaran kertas luka lama yang telah saya sobek-sobek dan dibuang ke dalam tong sampah, satu wacana yang menjadi prasasti di kertas itu :
sesaat setelah penolakan itu (yang nota bene sebelumnya dia yang meminta) mau tidak mau saya hanya di berikan dua opsi pilihan dari diri saya sendiri :
-opsi yang pertama : saya tetap berdamai dengan dia dan otomatis saya bermusuhan dengan diri saya sendiri dan meludahi itikad baik saya sendiri. karena jika berdamai dengannya berarti sama saja saya mendukung dengan segala dusta, fitnah dan rencana busuk dia.
-opsi yang kedua : saya harus membenci dia jika saya menghargai itikad baik saya, dan saya menolak segala konspirasi dari setiap dusta dan fitnah yang dia ciptakan. setiap orang punya hak untuk memilih dan saya punya hak untuk membenci karena telah dianiaya dan didzolimi.
-jadi lebih baik saya memilih berdamai dengan kebencian...itikad baik itu adalah sebagai harga mati dari harga diri saya yang telah dia ludahi.
sebenarnya saya tidak terlalu mempedulikan semua itu, sebab hanya diri saya sendiri dan balasan yang setimpal (yang mungkin entah kapan) yang terus mengejar-ngejar dia karena sebab.
saya tidak pernah terpikirkan untuk mendendam, karena dendam hanya ada didalam kepala para penganiaya dan pendzolim, kalaupun dendam itu harus ada, maka dendam itu adalah dusta dan fitnah yang dia ciptakan, yang akhirnya menjadi sekumpulan darah yang menjiwa. jiwa yang memiliki doa terburuk, yang terus mengejar dia kemana pun dan dimana pun dia ditempatkan.
sekarang saya hanya menatap sisa-sisa dendam yang sudah terbakar habis bersama kebencian saya dan bahkan abunya saya sobek-sobek lalu dibuang ke tong sampah. jadi hanya iblis yang bersekongkol dengan setan yang bisa membukanya. sedangkan dendam menjiwa yang dia buat sendiri..itu bukan urusan saya, karena saya yakin jika dendam yang menjiwa itu berubah ujud lagi menjadi seonggok karma maka hati kecil saya hanya diam seribu bahasa.
setelah itu saya akhiri semua ini. cukup bersyukur dengan menghirup udara baru dan memaknai nyawa baru saya sekarang adalah yang terbaik.