01 Juni 2009

bermain-main dengan setan yang sedang mengais robekan luka lama dari dalam tong sampah

betul gak sih kalau sifat setan dan malaikat itu ada di setiap jiwa manusia?
kalau kita itu adalah sifat baik dan buruk?
jika kita menemukan cinta pasti disana ada kebencian?
mungkin begitu pula dengan saya (yang nota bene seorang manusia yang tinggal di planet bernama bumi)
setelah beberapa menit mengais-ngais roh nietzsche untuk bertanya pada zarathustra serta sedikit konsultasi pada tiga angka enam-nya addy gembel untuk memulai serapah berbarengan dengan "setan yang sudah merasa manjadi yang paling benar" yang tiba-tiba datang menghampiri saya hari ini.
mencintai itu butuh pengorbanan (yang tidak buta) begitu juga membenci pasti membutuhkan sebab, benci (yang saya anggap ini adalah sifatnya setan) mungkin tidak akan berdiri sendiri, seperti hubungan sebab dan akibat, dan menurut pikiran (setan) saya benci yang baik adalah benci yang tidak di korupsi, yang tidak perlu ada statement yang dibuat-buat.
hari ini ketika sehari merasakan rasukan setan yang masuk sedikit-sedikit lewat denyut nadi saya dan menggumpal di pikiran saya juga tidak mengalir dengan sendirinya, ada energi negatif yang datang dari lembaran lama. yang sudah bosan saya baca, karena merasakannya sudah beku. disaat orang-orang bilang "mungkin bukan jodoh" lalu hati kecil saya berbicara "mungkin sudah terlalu basi" untuk dibicarakan, ini bukan masalah "jodoh" dan bukan juga masalah "ikhlas" itu semua (sekali lagi) sudah basi. ini adalah masalah setan yang datang dari dia, yang berubah ujud menjadi suatu jiwa berbentuk kebencian. tepat hari ini setan itu datang mengoyak-ngoyak rutinitas saya. membawa sejuta kebencian yang datang dari semua yang sudah dia lakukan...padahal kebencian ini memang sudah tertulis di lembaran kertas luka lama yang telah saya sobek-sobek dan dibuang ke dalam tong sampah, satu wacana yang menjadi prasasti di kertas itu :
sesaat setelah penolakan itu (yang nota bene sebelumnya dia yang meminta) mau tidak mau saya hanya di berikan dua opsi pilihan dari diri saya sendiri :
-opsi yang pertama : saya tetap berdamai dengan dia dan otomatis saya bermusuhan dengan diri saya sendiri dan meludahi itikad baik saya sendiri. karena jika berdamai dengannya berarti sama saja saya mendukung dengan segala dusta, fitnah dan rencana busuk dia.
-opsi yang kedua : saya harus membenci dia jika saya menghargai itikad baik saya, dan saya menolak segala konspirasi dari setiap dusta dan fitnah yang dia ciptakan. setiap orang punya hak untuk memilih dan saya punya hak untuk membenci karena telah dianiaya dan didzolimi.
-jadi lebih baik saya memilih berdamai dengan kebencian...itikad baik itu adalah sebagai harga mati dari harga diri saya yang telah dia ludahi.
sebenarnya saya tidak terlalu mempedulikan semua itu, sebab hanya diri saya sendiri dan balasan yang setimpal (yang mungkin entah kapan) yang terus mengejar-ngejar dia karena sebab.
saya tidak pernah terpikirkan untuk mendendam, karena dendam hanya ada didalam kepala para penganiaya dan pendzolim, kalaupun dendam itu harus ada, maka dendam itu adalah dusta dan fitnah yang dia ciptakan, yang akhirnya menjadi sekumpulan darah yang menjiwa. jiwa yang memiliki doa terburuk, yang terus mengejar dia kemana pun dan dimana pun dia ditempatkan.
sekarang saya hanya menatap sisa-sisa dendam yang sudah terbakar habis bersama kebencian saya dan bahkan abunya saya sobek-sobek lalu dibuang ke tong sampah. jadi hanya iblis yang bersekongkol dengan setan yang bisa membukanya. sedangkan dendam menjiwa yang dia buat sendiri..itu bukan urusan saya, karena saya yakin jika dendam yang menjiwa itu berubah ujud lagi menjadi seonggok karma maka hati kecil saya hanya diam seribu bahasa.
setelah itu saya akhiri semua ini. cukup bersyukur dengan menghirup udara baru dan memaknai nyawa baru saya sekarang adalah yang terbaik.

Tidak ada komentar: