siang itu panas memang sudah tidak tertahankan lagi dan juga perjalanan garut-bandung lumayan menyita tenaga dan energi, belum lagi perut yang tidak tertahankan sakitnya karena kelaperan dari tengah malam kemaren belum makan, ditengah perjalanan kutemui sebuah rumah makan dan aku berhenti, segalanya berubah menjadi nafsu yang tidak tertahankan, setan-setan di kepala sudah menggerogoti keinginan, gejolak darah meningkat membakar seisi tubuh dan mengalir disetiap denyut nadi mengubah perut menjadi sekumpulan para demonstran yang menuntut haknya, perut menjadi chaos sehingga aku lupa diri, diseranglah piring yang baru dicuci itu walaupun masih terasa basah, ku ambil sepotong daging ayam ditambah lalab dan aksesoris lainnya serta tidak lupa teman abadiku...sambel hijau! rasa lapar yang mengubah sifat ku menjadi setengah setan benar-benar manjur untuk melupakan doa, hingga tidak kusadari sesuap makanan masuk ke mulut dan....sakit yang sangat luar biasa terasa, aku ingat kemaren, lidahku sariawan, sakitnya tidak bisa diucapkan lagi, akhirnya kupaksakan untuk menelan ditambah rasa sakit, disitu aku sadar, aku lupa diri, membuang rasa sadar hingga melupakan satu hal. setelah habis makan, aku hanya memandang air minum, karena aku sadar, panasnya air minum itu tidak akan mampu untuk melewati lidah ini, aku lihat rokok dan itu pun hanya dilihatnya, aku mendapatkan telepon dari seseorang dan aku lebih banyak diam, dan sesampainya di rumah aku hanya berteriak di dalam hati sebab kue-kue itu menganggur, akhirnya hanya bisa diam, mengeluh di dalam hati, keesokan harinya sakit di lidah ini semakin menjadi-jadi, minum pun sangat sakit apalagi makan, aku berpuasa, puasa makan, puasa bicara, puasa merokok dan puasa mengumpat.
Ulasan Konser – Arctic Monkeys, O2 Arena London, 10 September 2018
7 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar