tepat akhir tahun 2008 jam 11 malam lebih 14 menit ketika di luar kaca asrama terlihat hingar bingar orang-orang naek motor yang kalang kabut kesana kemari gak jelas sembari meniup terompet dan dari kaca jendela, tapi aku disini sendiri dihadapan layar 16 inch dengan suara dari lagu-lagu di winamp dan disini saya lebih terlihat seperti seorang autis, diam sendiri tak ada siapa-siapa dan mata masih tertuju satu berita tentang visi dan misi orang-orang terkenal di tahun 2009, segala jenis rencana dan visi yang terlihat menyenangkan -dan lagian siapa juga yang menginginkan rencana buruk di masa depan- wajarlah bagi mereka, atau mungkin kalian juga, atau mungkin teman-teman saya pun memiliki rencana dan visi di tahun 2009 ini, tetapi aku?? bagaimana dengan aku...sekarang saja masih memikirkan apa yang harus saya lakukan besok, klise! sekarang saya hanya berpikir mungkin suatu saat nanti di pukul 23.59 wib ada sebuah partikel yang datang semacam sebuah keajaiban yang masuk merasuki udara dan terhirup oleh hidung saya hingga membuat saya tidur terlelap dan keajaiban itu datang pada mimpi saya, lalu berharap, harapan itu adalah sebuah masa dimana membawa saya pada dimensi lorong waktu dan mengembalikan diriku ke masa kejayaan di masa lalu. terkadang aku berpikir ternyata kita semua selalu dihadapkan pada suatu pilihan dan pilihan itu ada pada titik pertengahan hidup kita, didalam titik itu terdapat beberapa multyple choice, dan kita memilihnya...lalu setelah itu berubahlah kehidupan kita untuk saat itu dan kedepannya. ada yang menyesal dan ada yang merasa bangga. namun sesulit apapun dalam memilih tetap ada hikmah untuk masa depan, saya jadi inget perkataan teman saya bahwa masa lalu kita kerap akan mempengaruhi masa depan kita juga, jadi diri kita terbentuk dari masa lalu dan itu betul, akan tetapi watak dan perilaku kita terbangun juga dari segi lingkungan kita sekarang. dulu saya tidak pernah membayangkan jika saya sekarang bisa bekerja dan begini, sebelumnya saya ragu dan menolak harus bekerja seperti ini sehingga memaksa saya harus menjadi sosok pemberontak di mata orang tua, namun apa daya...saya masih butuh orang tua dan akhirnya planning beliau tercapai..itu 5 tahun yang lalu, dan sekarang..saya bangga bisa seperti ini, bangga saya bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi untuk orang tua...mumpung saya belum menikah. sehingga saya sekarang menjadi begini karena ada pengaruhnya dari masa lalu, dan menjalani adalah hari ini. setelah hari demi hari terus berjalan rasa ragu yang tertancap keras akhirnya keluar dan menghilang, jadi itu tadi, momen tahun baru ini saya tidak punya planning, planning itu adalah esok hari, apa yang harus saya lakukan untuk yang terbaik, apapun itu berusaha menjadi yang terbaik dengan menjalani senormal-normalnya, kesalahan adalah hal yang lumrah dan kritik adalah berkah, seseorang mengkritik kita maka dia memperhatikan kita, bersyukurlah jika kita diperhatikan, dan bila kita tidak pernah melakukan kesalahan maka bagaimana kita bisa menilai diri untuk bisa berbuat menjadi yang lebih baik lagi.
Ulasan Konser – Arctic Monkeys, O2 Arena London, 10 September 2018
7 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar