
ini dia postingan dari wikipedia :
adalah film komedi tragis Jerman yang dirilis tahun 2003. Film yang disutradarai oleh Wolfgang Becker ini dapat dilihat sebagai suatu gerakan rindu akan Jerman Timur (ostalgie).
Good bye, Lenin! merupakan film perdana pada Festival Film Internasional Jakarta 2004.
Ikhtisar cerita
Untuk melindungi ibunya dari kekejutan yang parah setelah koma berkepanjangan, seorang pemuda harus mencegahnya mengetahui kenyataan bahwa negara Jerman Timur yang dibanggakan ibunya sudah tidak ada lagi.
- Semboyan: The German Democratic Republic lives on – in 79 m²! ("Republik Demokratik Jerman tetap hidup – seluas 79 m²!")
Pemeran utama
- Daniel Brühl – Alexander Kerner
- Katrin Saß – Christiane Kerner
- Chulpan Khamatova – Lara
- Maria Simon – Ariane Kerner
- Florian Lukas – Denis
- Stefan Walz – Sigmund Jähn
Pada suatu adegan yang paling menonjol, Christiane berkeluyuran di luar apartemen tatkala Alex ketiduran, dan melihat seluruh perabotan kuno tetangganya menumpuk di jalanan untuk dibuang, seorang pedagang mobil menjual BMW daripada Trabant, dan sebuah helikopter militer mengangkut patung Lenin yang sangat besar, yang sepertinya sedang menyodorkan tangannya ke arah Christiane. Alex and adik perempuannya, Ariane Kerner, berhasil menemukan ibunya dan membawanya kembali ke apartemen. Kemudian, Christiane ragu-ragu akan kenyataan insiden itu.
Sebuah alur cerita sampingan menceritakan tentang ayah Alexander yang meninggalkan keluarganya untuk menuju Jerman Barat semasa Alex masih kecil. Peristiwa ini tampaknya membuat Christiane mengalami gangguan jiwa sementara, dan kemudian setelah pulih dia menjelaskan kepada kedua anaknya bahwa ayah mereka berselingkuh dengan wanita lain. Setelah peristiwa ini, Christiane menjadi seorang pendukung fanatik partai sosialis. Ternyata aksi itu sendiri merupakan sebuah penipuan dan perantauan menuju Jerman Barat direncanakan oleh Christiane dan suaminya, tetapi Christiane keluar untuk melindungi anak-anaknya. Ariane, yang kini bekerja di sebuah drive-through (loket pemesanan makanan tanpa harus keluar dari mobil) Burger King, pada suatu hari melihat ayahnya yang sedang bersama dengan keluarga baru. Christiane kemudian mengakui penipuan terebut dan Alex lalu pergi menemukan ayahnya untuk kebaikan dirinya dan Ariane, dan juga untuk memenuhi permintaan terakhir ibunya yang berharap dapat melihat suaminya untuk terakhir kalinya.
Christiane jatuh sakit lagi, dan kembali dilarikan ke rumah sakit. Di bawah tekanan untuk membuka kebenaran tentang jatuhnya Jerman Timur, Alex menyampaikan peristiwa tersebut kepada ibunya secara halus melalui siaran berita palsu. Alex baru saja bertemu dengan idolanya semasa kecil yang bernama Sigmund Jähn, orang Jerman pertama yang mencapai ruang angkasa - kini berprofesi sebagai pengemudi taksi. Pada siaran berita palsu, Jahn berperan sebagai pemimpin Jerman Timur baru, dan berpidato tentang janjinya untuk membangun masa depan yang cerah dengan membuka perbatasan dengan Jerman Barat. Christiane sangat bangga dengan siaran ini, tetapi ternyata dia sudah mengetahui peristiwa yang sebenarnya berkat pacar Alexander yang membuka seluruh rahasia saat Alex tidak ada. Pada saat itu Alex telah menciptakan Jerman Timur menurut bayang-bayangnya demi kebaikan ibunya. Aksi inilah yang membuat Christiane bangga akan anaknya, walaupun dia tidak ingin melukai hati Alex dengan menyampaikan bahwa dia sudah mengetahuinya. Ibarat meja yang diputar 360°, orang yang ditutupi dari kebenaran sebenarnya ialah Alex. Christiane meninggal sesaat setelah menyaksikan siaran berita itu, dan Alex tidak akan pernah mengetahui bahwa ibunya, pada akhirnya, mengetahui hal yang sebenarnya.
Analisis
Film ini menguraikan dengan baik sesuatu kebenaran dan penipuan, tetapi juga sebuah komedi terampil yang dibumbuhi dengan nostalgia. Seperti halnya Alex yang menipu ibunya, ibunya pun telah menipu anak-anaknya perihal keseluruhan hidupnya dengan suaminya, sehingga pada akhir cerita Alex tetap menyangka ibunya masih terpedaya. Seluruh penipuan dilakukan dengan alasan terbaik, dan dapat dilihat sebagai sebuah metafora tentang sikap Jerman Timur terhadap rakyatnya. Film ini juga mengingatkan bahwa, melihat kebelakang, runtuhnya Tembok Berlin dan reunifikasi Jerman barangkali tidak semestinya dilakukan secara terburu-buru karena tindakan itu tidak bisa memperbolehkan negara Jerman Timur untuk lenyap secara manusiawi. Penipuan yang dilakukan Alex setidaknya memperlihatkan ibunya meninggal bermartabat, dan setiap penipuan itu adalah sebuah metafora perihal aspek Jerman Timur yang berbeda-beda, dengan penipuan yang kerap dilakukan, tetapi terlalu-lalu berakhir. Film ini sengaja memainkan pikiran mereka yang amat rindu akan "masa lalu" yang lebih baik dari yang akan datang, namun pada akhirnya, muslihat terakhir ditujukan kepada para penonton.
* Keterangan lain :
Christiane Kerner: seorang pragmatis, bukan fanatik
Maafkan karena Indonesia saya tidak baik. Sutradara Wolfgang Becker menekankan dalam wawancara bahwa Christiane Kerner adalah bukan seorang fanatik partai SED melainkan menyesuaikan diri saja kepada masyarakat sosialis setelah memutuskan untuk tidak melarikan diri ke Barat, seperti suaminya. Sebaliknya, ibu Alex membantu tetangga dengan menulis petisi - adalah satu-satunya alat legal di Jerman Timur untuk mengucapkan kritik kepada instansi pemerintah, bahkan kalo kritik itu paling ironis dan sedikit memperolok. -- Tom 84.174.16.102 11:59, 14 Jun 2005 (UTC)
- Saya kurang lebih setuju dengan pendapat Anda setelah membaca berbagai review film ini di situs-situs lain. Mungkin kata "ardent" tidak layak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "fanatik". Tetapi saya tidak dapat menemukan link menuju situs yang berisi wawancara dengan Becker yang salah satu topiknya mengenai "penyesuaian diri" Christiane. Memang ada banyak situs yang berisi wawancara dengannya, namun tidak ada yang membahas hal ini.
- Mengenai sebuah upaya yang dilakukan penduduk Jerman Timur untuk mengkritik pemerintah melalui petisi, saya juga setuju setelah membaca artikel en:Christa Wolf [1].
- Terima kasih atas komentarnya. By the way, bahasa Indonesia Anda lumayan bagus kok. --*drew 14:28, 14 Jun 2005 (UTC)
- Saya merubah kata fanatik menjadi setia, supaya lebih netral. Paling tidak itu yang saya harapkan. Meursault2004 23:39, 14 Jun 2005 (UTC)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar