
Novel sampar oleh albert camus
begitulah saya berpaling kepada novel sampar, bukan terutama pada moral yang dituturkan dengan kata "sampar" itu. tapi pada relasi sedih dari tokoh tokoh inti novel sampar.
sampar memang lambang dari rumpalnya dunia, dari dikotomi yang tak terselamat: rentang yang meruang dan meraung, ke dalam belahan nasib baik, di mana manusia bahagia memandang laut yang berkilau, atau bayang pepohonan di kejauhan. tapi juga riwayat perang, yang menimbulkan derita dan sedih di hati.
Untuk kita, sampar adalah kaca buram, di mana diri bisa berkaca. bahwa wajah buram kita dalam kaca. buram dari jerit yang kita teriakkan. imbas dari hidup yang tak memiliki jalan keluar, di mana orang terbuang sia sia ke dalam, atau terpintal menjadi, laba laba para pemimpin, dari masyarakat yang retak dua: lain ucapan lain pula tindakannya.
saya tidak tergoda pada ideal dokter riuex akan hidup. riuex pun tahu: apa yang ideal adalah kehidupan yang bahagia tanpa derita, adalah kabar yang timpang turun ke bumi. Selalu, dalam bahagia yang turun itu, mengintip nestapa dari derita hidup kita sendiri.
karena itu walau rieux seolah memejamkan mata dengan tetap memeluk dunia abstrak itu, dan tetap keras kepala memperjuangkannya dalam kenyataan, saya menjauh dan agak berpisah jalan. biarlah perjuangan semacam itu diambil dan diusung para aktifis, yang memang cinta pada dunia keselamatan manusia. Saya, biarlah memungut dunia kesedihan di dalamnya.
begitulah saya terpesona, akan nasib grand yang malang. lelaki ini, dalam novel sampar camus itu, adalah representasi dari kemurnian hati, ketimbang cabang pikiran. grand hidup tanpa daya dan berjalan apa adanya. ia cuma lelaki tua yang tak kuasa menoleh, betapa bahwa hidupnya telah hancur di makan perasaan cinta pada jena bekas istrinya - sebuah perasaan yang tak nampak ke permukaan, tapi menghancurkan di dalam. Seolah ulat di hati.
dan ulat di hati itu memainkan dirinya ke dalam bahasa. permainan yang dimulai saat kehidupan kritis manusia tersingkap. kita perlu mencatat dan mengungkap momen kritis. bahwa dalam momen kritis semacam itu, manusia menampakkan hatinya dan kelihatanlah warna aslinya. grand yang tua membuat novel, seolah ia menghidupkan jena dalam kenangan. bukan dari struktur kisah yang menceritakan ke dalam detil novel, ke dalam peristiwa kejadian dalam novel. ia hanya memenuhi sekujur tubuh novel dengan hanya mengungkap kerinduan hati. seolah repetisi. dari pengulangan mimpi mimpinya yang memanggil manggil dalam hidupnya.
jen telah pergi dan tak pernah kembali lagi. hari ini natal jen, katanya sambil berkaca kaca bersandar di tembok sebuah toko perhiasan. tapi engkau di mana?
hiduplah dialog singkat tapi mematikan itu. aku tak bahagia pergi tapi aku tak bahagia hidup bersamamu lagi. begitulah suara hati jena saat sebelum menghilang.
begitulah novel itu hanya berisi lima puluh halaman dari kata kata yang mengulang, kata kata yang dibolak balik seolah ingin mendapatkan kesempurnaan dari hidup yang tak sempurna. seolah ingin menggapai bahagia dari hidupnya yang tak bahagia.
apakah kesan kalau laku subjektif grand yang mengenang bekas perempuannya itu sebagai sebuah tindakan yang tak tahu diri, di tengah bencana penyakit sampar membunuh seluruh penduduk kota oran?
apakah begitu kesannya?
tentu tidak. tidak dari kenyataan bahwa grand sendiri dengan caranya yang khas adalah juga aktifis, yang mendampingi dokter riuex di tahun tahun yang sukar itu. tapi tidak juga dalam kenyataan gerak seluruh cerita.
seolah laku grand adalah kontras: lihat dan dengarlah wahai manusia, atau kalau ditempatkan ke dalam jiwa novel: lihat dan dengar lah wahai tuhan, kami di sini memang hampir mati, tapi kami masih bisa bahagia dengan mengenang. kami melawan takdir yang engkau jatuhkan dengan dunia ciptaan. kami kalah, tapi kami menang karena masih bisa bahagia dengan ciptaan.
Berbahagia dengan kenangan agaknya sudah cukup bagi grand. dan saat penyakit sampar itu menusukknya dari dua jurusan, di ranjang kematiannya ia bangkit dan meminta dokter rieux membacakan bisikan hatinya. riuex pun membacakanya untuk grand dan untuk dirinya sendiri:
"di pagi mei yang cerah, seorang wanita langsing menunggang kuda alezane yang megah, berjalan di tengah-tengah bunga jalan setapak di bois..."
itulah penggalan hidup dari seorang lelaki tua romantic, yang telah kehilangan bahagia dalam hidupnya. seolah kutuk sampar yang menyukarkan berkumpul dan menusuknya: kutuk dari sebuah kisah cinta yang kehilangan tangannya. tangan dalam bentuk wanita bernama jena.
grand tokoh penuh perasaan terlihat lucu, dari kehidupan keras semacam itu. maka betapa haru ketika kutuk sampar sosial dan kutuk sampar yang masuk ke dalam hati grand, diungkapnya dengan kata kata kepada rieux sehari menjelang keadaannya yang kritis: "saya ingin mempunyai waktu buat menulis surat kepadanya. supaya dia tahu...dan supaya dia dapat berbahagia tanpa sesalan..."
tapi dalam kenyataan, ideal seperti itu ibarat cangkir air yang dituang penuh air, sehingga air melimpah keluar sia sia, ironi. cinta datang dan mungkin masih terselip di hati. Tapi kenangan terbenam dalam keruwetan hidup yang minta dipenuhi.
Itulah absurditas itu.
Absurditas dari dunia keindahan ideal yang agaknya memang hanya ada di dunia novel. sedang di dunia nyata, kita berkubang dan terjerembab dengan sesuatu yang tak ideal dari kenyataan hidup.
Adalah menarik membayangkan jena. Di manakah dia dan sedang apakah dia?
Jen memang tak pernah hadir di dalam novel itu, hanya sengkarut di dalam kenangan dan pikiran grand. Tahukah jen bahwa grand mantan suaminya masih mengenangkan dia? Inilah kawawasan lubang dari sebuah novel. tempat di mana kita bisa bermain main mengisinya dengan imaji. Imaji pembayangkan akan seseorang yang tak pernah hadir di dalam novel, tapi bisa kita jejak tiap tiap kemungkinannya. Jena yang malang mungkin bahagia. Dan kalau benar seperti ini, alangkah malang dan alangkah ironis hidup grand: pada saat dirinya terbuang dalam cinta, pada saat yang sama orang yang dicinta bahagia dengan lelaki di dunia sana.
Manakah yang benar? Camus sebagai pengarang tentulah tidak tahu, sebagaimana kita sebagi pembaca juga tidak tahu. Tokoh dalam novel pada suatu titik pergi dari pena pengarang, berjalan menempuh hidupnya sendiri. Seperti jena bekas istri grand.
Tetapi ketidakidealan seperti itulah yang membuat orang terus menulis. Menggali jiwanya dan menghayati pengalaman pribadinya. Apakah diri dengan mimpi buruk dan mimpi ngeri ini? Diri yang terbenam dan berkubang dengan segala kecamuk. Apakah diri karena itu meminta sesuatu yang mengelupas, ibarat ular berganti kulit? Tapi ular yang berganti kulit itu tak kuasa juga untuk tak beranjak ke bukit bukit, kalau panggilan suara absurd tualang itu memanggil manggilnya. Ia pun bangkit. Pergi menemui malamnya dan pergi memenuhi panggilan tualang cintanya.
Perempuan di hati camus, dan di dalam novelnya sampar itu, adalah perempuan yang luar biasa. Luar biasa dari sosok ibu dokter riuex. Siapakah nama perempuan itu? Rieux tak memberikan nama untuk ibunya. Solah tanpa nama perempuan itu menjelma menjadi perempuan perempuan seluruh dunia, sebagai symbol, sebagai lambang, dari pengertian dan ketegaran akan hidup. Perempuan di mana hati lelaki tergantung. Perempuan di mana diri lelaki terus berpaling
justru di saat saat sukar hidup mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar