21 Januari 2009

air susu dibalas air tuba

sekitar satu bulan yang lalu saya sempat bertemu dengan kawan lama yang kebetulan kita bertemu di suatu tempat. disana saya melihat dia sebagai seorang kawan lama yang (mungkin) sudah berubah, ya entah sifat dan karakternya serta kehidupannya, akan tetapi saya tetap positif thinking terhadap dia karena saya percaya dia sebagai seorang kawan lama. pada obrolan awal, kita membicarakan tentang keadaan kita masing-masing, kehidupan kita masing-masing hingga ke masalah yang paling detail jadi secara tidak sengaja kita curhat dan otomatis kita jadi membicarakan kehidupan yang pribadi, saya berpikir positif jadi akhirnya saya larut dalam cerita tersebut dan saya ceritakan semua kehidupan saya dari masalah dunia percintaan hingga masalah kerjaan. karena (saya tekankan) saya positif thinking ke dia jadi dalam pembicaraan pun saya sangat memperhatikan alur pembicaraan takutnya ada salah kata yang akhirnya malah menyinggung perasaannya, jadi saya menghargai perasaan dia dibanding perasaan saya sendiri, kenapa? sebab yang saya rasakan setelah sesi curhat berakhir dia berbicara tentang suatu masalah yang ada kaitannya dengan kerjaan saya (biasa masalah dijalan). mungkin saya masih bisa terima itu sebagai kritikan (klise! walaupun tidak ada kaitannya dengan saya) namun pembicaraan itu semakin menyudut padahal menurut saya dia pun salah, aneh! karena saya merasa ini adalah merundingkan suatu masalah secara bersama bukan sesi untuk menyudutkan seseorang, akan tetapi pada saat saya mengkritik dia (ini pun dengan sangat hati-hati) sepertinya dia kurang menerima,, malah saya semakin disudutkan, lalu setelah itu dia seperti tidak antusias ketika saya tawarkan minuman. akhirnya saya memberanikan untuk minta maaf ke dia (walaupun dia yang memulai "masalah" itu dan dia tidak meminta maaf kapadaku sepatah kata pun) lalu setelah itu suasana kembali menjadi segar. beberapa menit sebelum kita hendak pulang saya berkata kepadanya agar merahasiakan pembicaraan yang menyangkut masalah pribadi tersebut.

tiga minggu sudah berlalu saat saya pulang ke cimahi, lalu sesampainya di rumah, saya di sambut dengan gossip tak sedap, yaitu gossip bahwa saya kencan dengan kawan lama tersebut. layaknya disambar gledek di siang hari! "gila macam apa hari ini?" ketus saya di dalam hati. gossip yang konon keluar dari sesepuhnya si kawan lama itu. dan yang konyolnya gossipnya itu saya ngejar-ngejar dia, ngejar=berlari karena sesuatu yang dituju atau ngejar=niat untuk suka ke dia, ngejar setan kali! fitnah macam apa? oh ternyata pertemuan kita kemaren ada yang ngebongkar (masalahnya klu gak terbongkar gak akan mungkin dia angkat bicara, harus ada pihak ketiga yang jadi mata-mata, dan lagian gk penting harus ada pihak ketiga) waduh sial, jangan-jangan semua rahasia saya terbongkar! selidik punya seilidik ternyata si kawan lama inilah yang membongkarkannya (ya klu bukan dia lagi siapa? karena di sana kita berdua, kecuali klu dia peke penyadap) plus menggossipkannya. entah harus diperpanjang berapa batas kesabaran ini mendengar gossip itu. sudah mah waktu pas ketemu saya diserang abis-abisan, saya mengalah saja walaupun pembicaraan ini sudah tidak nyaman lagi, tetapi saya masih tetap menghargai perasaan dia, terus setelah beberapa minggunya saya di serang lagi dengan gossipnya dia. saya tau dia udah punya cowo (dengan ceritanya yang "wah") jadi feeling saya ke dia itu sangat mustahil dan tidak terpikirkan sedetik pun (jadi najis ngebayangnya). bener-bener apes saya, entah apa masalah dia, sungguh tidak bisa menjaga amanat sedikit pun, padahal saya masih bisa menjaga amanat dia hingga sekarang, hanya kesabaran itu habis ketika orang tua saya ikut cerita juga, beban itu jadi terbagi dan sedikit menyita energi. saya jadi berpikir : sebetulnya lebih sulit mana sih antara mempertahankan satu teman dengan menciptakan seorang musuh?

4 komentar:

Anonim mengatakan...

hrsnya gini zar:
"lebih susah mana, mempertahankan satu teman atau menciptakan seribu musuh?"
terntu saj albh susah mempertahankan satu teman.

y udah lah zar, antepkeun org ky gt mah, histrionik, cari sensasi belaka. haha...
lesson learn, lain kali klo cerita sama org jgn terlallu extrovert yak

heuheu...

cherio ^.^

TIZAR AZIZ mengatakan...

@agni:
iya betul seharusnya : "lebih susah mana, mempertahankan satu teman atau menciptakan seribu musuh?" tapi menurut filosofi tizar (sok so' si tizar!) karena seribu musuh terlalu banyak kali ya...hehe jadinya satu aja.

akhirnya tizar jadi malu bgt ma ortu, tak terbayangkan deh harus digosipin kaya gituh, asa memasuki dunia perkampungan yg di dalemnya org2 jahiliyah bermulut ember, dan dari kejadian ini tizar bener2 bisa ngambil pelajaran dan hikmahnya...

Anonim mengatakan...

emang separah apa digosipin nya?
aduh zar, km hrs belajar 'bermental artis' yaitu cuek aja klo d gosipin...
hahahah

TIZAR AZIZ mengatakan...

iya bener..
pede always lah nya, moga2 org usil kaya gitu di balesnya kaya gitu lagi tapi 100 kali lipatnya!