disebuah warung makan ada pembicaraan seorang kawan tentang skripsi, pengajuan judul yang gagal, dia adalah rekan kerja yang sedang berkuliah di sekolah hukum, dia bilang jarang masuk tapi nilai IP nya selalu bagus..dan sebentar lagi dia sarjana, menyandang sarjana hukum. namun jika saya melihat orang-orang di sekeliling masih ada saja manusia-manusia bercap titel, jadi kuliah itu hanya piknik sementara tanpa menyerap ilmu, dan terkadang absen pun ngblank, apa yang bisa diambil dari sebuah gelar jadinya? hanya nama ditambah titel namun kepala masih tetap sebuah ruangan kosong. percuma harus lahir para titel tapi ilmunya status quo, tuntutan kah? terkadang saya jadi ingat kuliah saya yang terbengkalai hingga detik ini, hingga harus tersaingi para manusia bertitel tanpa kontribusi, jika harus merasa tertuntut maka saya lebih baik hidup berada di sekeliling tumpukan buku dan para guru, daripada hidup dikelilingi para omong kosong manusia berlabel titel, jika dia adalah cendekiawan yang berilmu, maka bukan label dan titel yang harus ditonjolkan, membuktikan dengan kontribusi ilmu yang telah dia dapatkan adalah tanggung jawab dari titel yang telah dia cantumkan bersama nama, jangan pernah melupakan ilmu padi karena percuma jika arogansi yang ditonjolkan, atau terkadang lupa diri, sehingga menganggap orang-orang sekeliling kita yang tanpa label dan titel hanyalah orang-orang bodoh, itu adalah bukti arogansi dari manusia bertitel dan mereka secara tidak sadar telah menebar muka dengan aib mereka sendiri. jika titelmu bukan sebuah aib, maka buang jauh-jauh label dan titel, buktikan dengan kontribusi.
Ulasan Konser – Arctic Monkeys, O2 Arena London, 10 September 2018
7 tahun yang lalu

1 komentar:
teen uni orang sumedang malah bilang..
"kata si mamah blum boleh nikah kalo blum Spd..biar di undangannya aya titelna ceunah.!"
euleuh..euleuh..
kumaha atuh.
Posting Komentar